SUMMER SCHOOL PERSETIA:
3 – 11 Agustus 2025 di STT HKBP Pematang Siantar
Summer School PERSETIA Tahun 2025 adalah Pengembangan Model-model Pelayanan Pastoral dan Konseling di Era Disrupsi dalam konteks Indonesia. Pilihan tema ini menunjukkan tanggapan PERSETIA terhadap pergumulan yang dihadapi oleh masyarakat dan gereja termasuk perguruan tinggi di era disrupsi ini. Salah satu ciri era disrupsi adalah perubahan sistem yang lama itu tidak terjadi secara perlahan, tetapi secara cepat dan menggantinya dengan hal baru. Karena itu, era ini ditandai oleh perubahan besar akibat inovasi teknologi, dan pergeseran sosial-budaya. Transformasi ini memengaruhi cara hidup, pola komunikasi, hingga spiritualitas manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak manfaat teknologi digital bagi manusia. Hal ini terlihat pada saat dunia dilanda ancaman Covid-19; aktivitas pendidikan pada masa itu tetap berlangsung, karena dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Namun, hal ini juga membawa dampak negatif seperti isolasi sosial, ketergantungan teknologi, dan kecenderungan untuk kehilangan koneksi yang autentik. Kehadiran teknologi memengaruhi relasi antar individu, yang beralih ke ruang virtual. Ini memunculkan isolasi sosial, keterasingan spiritual, dan kecenderungan individualisme. Banyak orang kehilangan arah hidup akibat tekanan sosial dan ekonomi. Generasi muda, khususnya, menghadapi tantangan dalam menemukan jati diri mereka di tengah perubahan budaya yang cepat. Lonjakan kasus depresi, kecemasan, dan stres, terutama di kalangan generasi muda, menuntut perhatian serius. Kesepian, perundungan daring, dan tekanan untuk tampil sempurna di media sosial menjadi faktor pemicunya. Materialisme dan pragmatisme telah menggantikan nilai-nilai spiritual, sehingga banyak individu merasa kehilangan makna hidup. Perubahan dalam berbagai dimensi kehidupan manusia, menuntut manusia memiliki kemampuan untuk menentukan posisi pijak, yang dapat memampukan manusia menentukan pilihan, di hadapan tawaran-tawaran yang disajikan oleh teknologi digital itu. Dalam hal ini, sikap kritis dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan segala bentuk teknologi digital dibutuhkan. Perubahan dalam berbagai dimensi hidup membawah nilai dan tantangan- tantangan baru bagi kehidupan manusia. Fenomena ini menghadirkan tantangan baru bagi pelayanan gereja, termasuk sekolah-sekolah anggota PERSETIA, khususnya dalam mendampingi umat menghadapi masalah mental, emosional, dan spiritual di era disrupsi. Karena itu, pastoral care atau pelayanan pastoral dan konseling dibutuhkan, sebagai salah satu cara menolong manusia dalam era disrupsi ini. Dalam rangka kebermanfaatannya, kreatifitas menciptakan dan atau mengembangkan model-model pelayanan pastoral dan konseling, merupakan tanggungjawab bersama yang tidak dapat dihindari. Menurut Howard John Clinebell, “Perlu disadari bahwa pelayanan pastoral adalah salah satu instrumen paling efektif, yang memungkinkan gereja-gereja dapat tetap relevan dengan kebutuhan manusia, yang terus berubah” (Clinebell, 2011, p. 2). Dalam hal ini, pelayanan pastoral dan konseling tidak hanya tentang mendengarkan kisah atau cerita, tetapi juga tentang menciptakan dan menemukan makna hidup (Doehring, 2015, p. xiv). Artinya, pastoral care dan konseling memiliki peran untuk memberi tawaran-tawaran, termasuk strategi menghadapi era disrupsi ini, di mana pembahasan strategi menghadapi era disrupsi bukanlah sesuatu yang kaku. Inovasi dalam berpikir dan mengambil tindakan harus dilakukan dalam menghadapinya, termasuk inovasi dalam pengembangan model-model pelayanan pastoral dan konseling, yang sesuai dengan konteks Indonesia. Terkait dengan model-model pendampingan pastoral yang kontekstual di Indonesia, Besly J.T. Messakh menuliskan argumentasinya dalam artikel yang berjudul “Menuju Pelayanan Pastoral yang Relevan dan Kontekstual.” Menurut Messakh, “…dalam dunia pelayanan pastoral, mulai diperkenalkan model pelayanan pastoral holistic yang bersifat lebih utuh dan menyeluruh, dan merupakan penyempurnaan serta perluasan dari model pelayanan pastoral individual….” (Messakh, 2018, p. 29). Lebih lanjut, dengan mengutip Anthony Yeo, Messakh menulis bahwa “…masyarakat Asia lebih menyukai konseling pemecahan masalah yang kongkret, direktif, dan berlangsung dalam waktu singkat.” (Messakh, 2018, pp. 35-36). Dengan pengembangan model-model pelayanan pasoral dan konseling di era disrupsi, akta gereja dalam pastoral dan konseling tidak kaku, tetapi terus berkembang. Pelayanan pastoral dan konseling mengingatkan tentang fungsi gereja sebagai komunitas (Community), untuk memperkuat nilai-nilai sosial berhadapan dengan semakin kuatnya individualitas dan materialistik di era ini. Apalagi masyarakat Indonesia yang terkenal dengan ciri komunalitasnya, tetapi juga yang diakui sebagai pengguna media digital ‘cukup tinggi’, dengan sekitar 221 juta pengguna (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), 2024). Fakta di atas menimbulkan pertanyaan: “apakah orientasi pelayanan pastoral dan konseling, yang dilakukan oleh gereja-gereja di Indonesia, selaras dengan kebutuhan masyarakat Indonesia di era disrupsi ini?”. Terhadap pertanyaan ini, satu artikel yang berjudul Communities Facing Distruption: The Need to Shift from Individual to Community Paradigms in Pastoral Care, dapat dipertimbangkan. Artikel tersebut menegaskan pemahaman holistik tentang kesehatan, kesejahteraan, penyembuhan, dan pemulihan, yang hanya dapat dipahami sepenuhnya, jika pemahaman tersebut didukung oleh kesadaran yang kritis, tentang dimensi relasional dan komunal, dari masing-masing hal tersebut (Mouton, 2014, pp. 91-95). Melalui tema yang digumuli ini, diharapkan Summer School PERSETIA Tahun 2025 dapat memberikan manfaat bagi peserta untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan praksis pengembangan model-model pelayanan pastoral dan konseling di era disrupsi, pada konteks mereka masing-masing. Selain itu, Summer School tetap mendorong penelitian-penelitian yang dapat dilakukan oleh para mahasiswa, terkait tema ini. 2. Tujuan dan Hasil yang Diharapkan Tujuan yang diharapkan tercapai dari pelaksanaan Summer School PERSETIA Tahun 2025 ini adalah: 1. Peserta mampu memahami dan mengidentifikasi berbagai tantangan, peluang, dan isu-isu kontemporer yang muncul di tengah era disrupsi, yang berhubungan dengan layanan pastoral dan konseling. 2. Peserta mampu memahami secara komprehensif perkembangan pelayanan pastoral dan konseling di tengah era disrupsi dalam konteks Indonesia. 3. Peserta mampu merancang model-model pelayanan pastoral dan konseling di era disrupsi dalam konteks Indonesia. 4. Peserta berbagi pengetahuan tentang hasil penelitian yang sudah mereka lakukan, terkait model-model pelayanan pastoral dan konseling di era disrupsi dalam konteks mereka masing-masing.
Materi dan Narasumber :
Summer School PERSETIA Tahun 2025 yang diselenggarakan di STT HKBP Pematang Siantar pada 3–11 Agustus 2025 dengan tema “Pastoral Care and Counseling in the Disruptive Era” telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan wacana dan praksis pelayanan pastoral serta konseling di tengah tantangan era disrupsi. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang akademik teologi yang menekankan pentingnya pendekatan holistik, kontekstual, dan transformatif dalam pendampingan pastoral. Melalui materi yang disampaikan, peserta diperkaya dengan pemahaman baru mengenai paradigma pelayanan pastoral yang tidak hanya menekankan aspek individual, tetapi juga aspek komunal dan relasional sebagai jawaban atas meningkatnya problem sosial, spiritual, dan psikologis di masyarakat. Penekanan pada inovasi dan model-model pelayanan pastoral yang relevan dengan konteks Indonesia membuka ruang bagi pengembangan pelayanan yang lebih kreatif, kritis, dan bertanggung jawab, sehingga gereja tetap mampu hadir sebagai komunitas penyembuhan dan pemulihan di tengah derasnya arus perubahan.
Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 40 peserta yang berasal dari berbagai Sekolah Tinggi Teologi se-Indonesia, khususnya mahasiswa pascasarjana, yang dengan antusias terlibat dalam diskusi, presentasi artikel, dan pertukaran pengalaman akademik. Partisipasi lintas sekolah ini menunjukkan bahwa isu pelayanan pastoral dan konseling dalam era disrupsi merupakan kebutuhan bersama yang menuntut kolaborasi dan sinergi antar lembaga teologi di Indonesia. Dengan demikian, Summer School PERSETIA Tahun 2025 tidak hanya menjadi ruang akademik untuk memperkaya wawasan, tetapi juga menjadi wadah pembentukan jejaring komunitas teologis yang berkomitmen untuk terus mengembangkan model-model pelayanan pastoral dan konseling yang relevan, kontekstual, serta menjawab kebutuhan nyata umat di era disrupsi.