Untitled Document Untitled Document
Untitled Document Untitled Document
.
post image
.

AGAMA SUMBER PERDAMAIAN:

BERAGAMA DI DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

 

Pdt. Erick J. Barus, D.Th

 

 

Pengantar:

Agama pada dasarnya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Semenjak manusia dilahirkan sudah ada potensi, naluri, pembawaan agama, karena itulah dalam komunitas manusia tidak pernah ada masyarakat “tanpa agama”. Kenyataan ini mengisyaratkan tidak ada orang yang tidak beragama sehingga dalam hidup berdampingan diharapkan dapat saling menghargai, menghormati, dan kerjasama yang baik satu sama lain.

 

Dari sudut pandang sejarah agama-agama, Yahudi, Kristen, dan Islam adalah merupakan tiga agama monoteisme di dunia. Di samping itu ada juga agama-agama lain (Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Taoisme, Agama Suku, dan Aliran-aliran Kepercayaan lain). Jumlah penganut agama Yahudi tidak terlalu besar, namun Islam dan Kristen adalah dua di antara agama-agama besar, di mana kedua agama tersebut menjadi landasan bagi peradaban-peradaban dunia yang pernah ada. Lebih dari itu, akar sejarah Islam dan Kristen (termasuk Yahudi), dipahami berasal dari seorang nabi yang sama yaitu Abraham (Ibrahim), sehingga dalam sejarah agama, Islam, Kristen dan Yahudi dikelompokkan ke dalam apa yang disebut dengan agama-agama Abraham (Abrahamic Religions).

 

Secara teologis ciri khas agama-agama Abraham adalah kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa (monoteisme), meskipun ketiga agama tersebut memiliki konsep monoteisme yang berbeda-beda. Oleh karena itu, monoteisme ini dapat dianggap sebagai salah satu titik temu agama-agama Abraham. Sejarah mencatat berbagai kejadian suram dan konflik-konflik yang mewarnai pemeluk ketiga agama, Yahudi, Kristen, dan Islam yang masih berlangsung sampai sekarang. Di samping berbagai faktor kepentingan politik, sosial, ekonomi, ketegangan ketiga kelompok itu, juga dipicu oleh semangat keagamaan yang eksklusif (kebenaran hanya pada diri sendiri), minimnya pemahaman terhadap pihak lain serta kurang berkembangnya tradisi dialog. Lagi pula, persoalan-persoalan kemanusiaan dewasa ini semakin menyadarkan kita akan pentingnya meningkatkan keterlibatan agama-agama untuk ikut memperhatikan dan mengupayakan penyelesaian secara bersama-sama. Keterlibatan agama semacam itu tidak terhindarkan, karena iman tidak cukup hanya diikrarkan dan diwujudkan dalam bentuk ritualnya, ia menuntut keterlibatan konkrit dalam seluruh problem etis umat manusia. Dengan memperhatikan pluralitas masyarakat pada masa sekarang, paradigma-paradigma lama yang penuh polemik dan permusuhan Yahudi, Kristen dan Muslim kiranya tidak dapat dipertahankan lagi. Sudah saatnya, baik kaum Yahudi, Kristen, dan Muslim merumuskan kembali pandangan dunianya, sehingga lebih berwawasan universalistik dan pluralistik.

 

Setiap komunitas berpengaruh dalam kehidupan manusia. Pengaruh itu diharapkan dalam bentuk mencari “titik-temu” (encounters) yang produktif  dan bukan mencari “pertentangan” (clashes) yang kontra-produktif. Hal itu bisa ditempuh melalui membangun saling pengertian dalam bentuk kesediaan membuka diri untuk berdialog untuk perdamaian. Hans Kung, seorang filsuf dan pemerhati kehidupan keberagamaan dalam teorinya mengatakan: “Tiada perdamaian antarbangsa, tanpa perdamaian antaragama; Tiada perdamaian antaragama, tanpa dialog antaragama; Tiada dialog antaragama, tanpa kesediaan diri memahami dasar-dasar agama”.

 

Teori di atas, memberi isyarat bahwa perdamaian dunia dapat diwujudkan lewat peran dan partisipasi agama-agama dalam membangun saling pengertian (titik-temu) dalam dialog. Melalui dialog bisa dipahami sejarah munculnya agama, ajarannya, dan misinya serta peran agama-agama sesungguhnya dalam kehidupan umat manusia yang pluralis.

 

 

Disampaikan dalam kuliah umum pada tanggal 24 Agustus 2019 di Chapel STT Abdi Sabda Medan yang dimana pesertanya adalah Dosen dan mahasiswa.

 

Untitled Document
Untitled Document Untitled Document
Untitled Document
Kerjasama